si Eneng dan si Abang

Eneng melenggang dengan santai, melenggokkan pinggulnya yang bergoyang bak pendulum ke kanan dan ke kiri. Abang mengikutinya dengan hati riang. Bersiul-siul gembira melangkahkan kakinya sambil memandang aksi ke kanan dan ke kiri.

Melewati sekian pasang mata yang memandang, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Pakaian Eneng memang sedikit terbuka, tubuhnya pun mengundang selera para pria. Mungkin saja pikiran-pikiran negatif bermunculan dari wajah-wajah yang memandanginya.
Eneng dan Abang memilih satu gubuk tersendiri, duduk mengambil posisi. Tak berapa lama datanglah perempuan pramuniaga, menawarkan menu kepada mereka berdua. Eneng dan Abang memilih-milih makanan apa yang kiranya akan mereka santap malam itu.

Melewati malam itu dengan makanan nomor satu yang disajikan di meja yang berhias lilin cantik. Serasa malam milik mereka berdua saja. Tak selang berapa lama handphone Eneng berbunyi, dari rumah rupanya. Si anak sedang sakit demam, begitulah berita yang dia dapatkan. Dengan santainya menyuruh pengasuh anak untuk memberikan obat yang sudah tersedia, kemudian mematikan handphone'nya dan kembali bercanda dengan Abang.

Ah iya... Eneng memang wanita malam, si Abang pun tak kalah dengannya. Dia seorang pria yang kesepian, di ceraikan istrinya sehingga malam-malamnya terus kesepian.
Ah... dunia ini memang selalu saja seimbang.

Comments

Popular posts from this blog

AwaN hItaM - SiLvEr

BibbLe "Barbie Fairytopia"

Kencan Pertamaku