Rindu embun kepada kabut
Sekejap saja...
Ketika mentari menyapa lewat senyumannya
Embun melebur menari dalam buaiannya
dan bahkan tak sempat sang kabut menyentuh ujung-ujungnya
Menghilang bersama senyuman mentari
Tapi mereka tak pernah lelah
Terus hadir disetiap malam dingin bertabur bintang..
karena hanya malam yang mereka punya
Kepada malam dingin mereka mampu berpandangan
Meski esok hari kembali harus melebur dan menghilang lagi
#pemimpikecil
Showing posts with label My Poem. Show all posts
Showing posts with label My Poem. Show all posts
Friday, September 09, 2016
Thursday, June 21, 2012
Diamku
Ketika aku memilih untuk diam
bukan berarti aku tak menghiraukanmu
Ketika aku memilih untuk diam
bukan berarti aku mengiyakan katamu
Ketika aku memilih untuk diam
bukan berarti aku tak memiliki jawaban
Terkadang aku memilih diam
agar kamu bisa merasa puas untuk berbicara banyak
Aku memilih diam
untuk mendengarkanmu lebih banyak
Aku memilih diam dan kemudian tersenyum
untuk memahamimu lebih dalam..
Tuesday, October 19, 2010
Apa ini.. Apa itu :P
Tak surut langkahku menerjang rintangan hidup
meski terkadang harus berhenti tersandung onak berduri
waktu terus melaju...
Dia tak pedulikan aku, kau, juga mereka
Hanya dengan langkahku saja, aku harus mengejarnya
Tak jarang yang terlewat membuatku menangis dan kecewa
Bumi berputar terbalik dan waktu berjalan kebelakang pun
takkan mampu menghapus tangis dan lukaku
Hanya akan menambah duka lara
sebab dia menghancurkan yang telah ada
Terus berjalan adalah jalan satu-satunya...
^______^
meski terkadang harus berhenti tersandung onak berduri
waktu terus melaju...
Dia tak pedulikan aku, kau, juga mereka
Hanya dengan langkahku saja, aku harus mengejarnya
Tak jarang yang terlewat membuatku menangis dan kecewa
Bumi berputar terbalik dan waktu berjalan kebelakang pun
takkan mampu menghapus tangis dan lukaku
Hanya akan menambah duka lara
sebab dia menghancurkan yang telah ada
Terus berjalan adalah jalan satu-satunya...
^______^
Thursday, July 01, 2010
Untitled

Ingin ku beranjak
namun kaki tak hendak
Tercekat aku melihatnya
umpama malaikat bersayap putih
berbinar laksana ribuan bintang
Sinarnya menghujami tubuhku
hingga terus menerobos memaksa menembus ke dalam sumsumku
Aku tak berdaya
sungguh..
Kau begitu indah
Dan aku laksana sesosok kerdil tak ada arti
Binar cahayamu begitu indah tapi mengapa
begitu menyakitkan memasuki setiap aliran darahku
Kau hanya diam..
namun mampu menghantuiku disetiap inci tubuhku
Begitu hebatnya pengaruh itu
seumpama doktrin-doktrin yang melekat erat
Tapi aku bahkan tak mengenalmu
pun hanya sebuah nama yang aku tahu
Setan selalu membisikkan
Membuat hatiku nyinyir bernanah penuh darah
menyakitkan..
Tolong..
bisakah kau pergi saja dari hadapanku?
Bawa segala indahmu... dan antek-antek setanmu!!
Aku memiliki semua yang pernah, sekarang, dan akan kau miliki...
Wednesday, May 26, 2010
Harapan (tak) Nyata
Ku bawa kuali-ku melewati hutan
yang tangan-tangannya telah gersang
Jemarinya rapuh...
bisakah kau dengar? patahannya menyayat hati
Pun aku pilu...
Tak ingin ku menginjakkan kaki telanjangku di atasnya
menambah beban pepohonan yang tumbang
Aku terus menyusuri kematian hidup
membopong kuali-ku erat-erat agar tak lepas
Berharap menemukan mata air jernih
akan ku penuhi kuali-ku dengannya
Meski tetes demi tetes aku menunggu sekian lama
Aku harus mampu memenuhinya.. penantian itu hal biasa
sudah melekat erat dalam kehidupanku
Jika kuali-ku tlah terisi sempurna..
ku bagikan airku untuk jemari yang rapuh
untuk lengan-lengan yang tumbang
Hingga hutanku pulih dan mampu menaungi dunia
yang tangan-tangannya telah gersang
Jemarinya rapuh...
bisakah kau dengar? patahannya menyayat hati
Pun aku pilu...
Tak ingin ku menginjakkan kaki telanjangku di atasnya
menambah beban pepohonan yang tumbang
Aku terus menyusuri kematian hidup
membopong kuali-ku erat-erat agar tak lepas
Berharap menemukan mata air jernih
akan ku penuhi kuali-ku dengannya
Meski tetes demi tetes aku menunggu sekian lama
Aku harus mampu memenuhinya.. penantian itu hal biasa
sudah melekat erat dalam kehidupanku
Jika kuali-ku tlah terisi sempurna..
ku bagikan airku untuk jemari yang rapuh
untuk lengan-lengan yang tumbang
Hingga hutanku pulih dan mampu menaungi dunia
Monday, May 17, 2010
Bintangku
Ketika tak lagi ada manusia yang mampu membuatku nyaman
Aku akan selalu berlari ke arahmu
Ketika aku tak mampu berkata apa-apa
Aku akan menghampirimu
Sekarang aku begitu menginginkanmu
membutuhkan belaian hangat sinarmu
Kau bahkan tak mau keluar barang sekali pun..!!!
Aku tahu engkau ada disana.. bersembunyi
dibalik gelapnya awan hitam yang gemar menggelayut di langitmu
Tak tahukah engkau..
Disini.. didalam sini
didalam dadaku ini seperti magma yang siap meledak
Sinarmu begitu tenang..
terbiasa meredam gelegak panasnya hati
menjadikannya hangat kembali
Tapi kau bahkan tak lagi ada disana.. tak nampak untukku
Aku merindukanmu
bintangku...
Aku akan selalu berlari ke arahmu
Ketika aku tak mampu berkata apa-apa
Aku akan menghampirimu
Sekarang aku begitu menginginkanmu
membutuhkan belaian hangat sinarmu
Kau bahkan tak mau keluar barang sekali pun..!!!
Aku tahu engkau ada disana.. bersembunyi
dibalik gelapnya awan hitam yang gemar menggelayut di langitmu
Tak tahukah engkau..
Disini.. didalam sini
didalam dadaku ini seperti magma yang siap meledak
Sinarmu begitu tenang..
terbiasa meredam gelegak panasnya hati
menjadikannya hangat kembali
Tapi kau bahkan tak lagi ada disana.. tak nampak untukku
Aku merindukanmu
bintangku...
Friday, April 02, 2010
Jalanku
Andai saja aku penguasa waktu
niscaya sempurna jalan hidupku
Tak kan ada kesalahan secuilpun
yang membuat penyesalan terlintas
Aku mampu hinggap di waktu mana pun aku mau
Memperbaiki segala kesalahan yang ada
Menghapus semua air mata dan duka
membuang genggaman dosa
Tidak..
Tidak seperti itu
Angan seperti itu hanya milik orang rapuh
orang bodoh yang tidak mampu berjalan meski dengan kaki kokoh
Harus selayaknya manusia dengan segala kepandaiannya
menghadapi segala coba yang tiada henti
Tantangan itu harus di hadapi
meski itu diri sendiri
Segala rangkaian jalan yang telah aku lalui
semua terjalin dengan jalan Tuhan
dan aku tak mampu merubahnya kembali
Jadi hanya akan aku gunakan otak dan kaki
untuk terus maju ke depan dengan jutaan tantangan di depan
~emi riyanti~
niscaya sempurna jalan hidupku
Tak kan ada kesalahan secuilpun
yang membuat penyesalan terlintas
Aku mampu hinggap di waktu mana pun aku mau
Memperbaiki segala kesalahan yang ada
Menghapus semua air mata dan duka
membuang genggaman dosa
Tidak..
Tidak seperti itu
Angan seperti itu hanya milik orang rapuh
orang bodoh yang tidak mampu berjalan meski dengan kaki kokoh
Harus selayaknya manusia dengan segala kepandaiannya
menghadapi segala coba yang tiada henti
Tantangan itu harus di hadapi
meski itu diri sendiri
Segala rangkaian jalan yang telah aku lalui
semua terjalin dengan jalan Tuhan
dan aku tak mampu merubahnya kembali
Jadi hanya akan aku gunakan otak dan kaki
untuk terus maju ke depan dengan jutaan tantangan di depan
~emi riyanti~
Monday, March 29, 2010
Untitled
Aku tertawa manakala dia bersedih
Tawaku semakin mengencang ketika dia meraung dalam kegalauan
Sudut bibirku berkedut tak kuasa menahan tawa
Ketika dia bahagia aku begitu terluka
Sepenuh hatiku tak inginkan melihat tawanya
Terjatuh aku dalam lobang hitam kelam saat dia berbinar
Salahkah aku?
Mengapa engkau menyalahkan aku atas rasaku ini?
Engkau tahu apa tentang rasaku ini?
Dia adalah iblis
setan yang selalu sigap mengusik kedamaian hati
Aku tak pernah inginkan dia tertawa
Andai dia tertawa aku akan terluka selamanya
Tawaku semakin mengencang ketika dia meraung dalam kegalauan
Sudut bibirku berkedut tak kuasa menahan tawa
Ketika dia bahagia aku begitu terluka
Sepenuh hatiku tak inginkan melihat tawanya
Terjatuh aku dalam lobang hitam kelam saat dia berbinar
Salahkah aku?
Mengapa engkau menyalahkan aku atas rasaku ini?
Engkau tahu apa tentang rasaku ini?
Dia adalah iblis
setan yang selalu sigap mengusik kedamaian hati
Aku tak pernah inginkan dia tertawa
Andai dia tertawa aku akan terluka selamanya
Tuesday, January 12, 2010
Hujan Sore Itu
Berkilau bening berjatuhan dari langit
menyapa tanah kering.. berkecipak
Bau tanah menyeruak hidungku
Uhhh.. aku belum juga bisa mencintai bau ini
Aku berasal dari tanah.. tapi entah
aku tak pernah menyukai bau tanah kering yang disapa hujan
Aku sangat menikmati saat air itu berjatuhan
seakan berusaha memahami titik demi titik yang berayun cepat
dihembus sang angin yang senantiasa mengiringinya
Sore yang seharusnya berwarna jingga kala itu
menjadi agak kusam seiring awan hitam yang menggelayutinya
Tapi aku masih menikmatinya...
merasakan jatuhnya air di tubuhku
Bagai dibuai jagat raya... hingga menggigil dan kaku
Apakah diluar sana sedingin ini?
Jagat raya tidak sehangat yang aku kira?
Tak ingin juga aku memahaminya... aku hanya menikmati sentuhan tangan jagat raya
yang disampaikan titik air hujan kepada bumi
By: emi
menyapa tanah kering.. berkecipak
Bau tanah menyeruak hidungku
Uhhh.. aku belum juga bisa mencintai bau ini
Aku berasal dari tanah.. tapi entah
aku tak pernah menyukai bau tanah kering yang disapa hujan
Aku sangat menikmati saat air itu berjatuhan
seakan berusaha memahami titik demi titik yang berayun cepat
dihembus sang angin yang senantiasa mengiringinya
Sore yang seharusnya berwarna jingga kala itu
menjadi agak kusam seiring awan hitam yang menggelayutinya
Tapi aku masih menikmatinya...
merasakan jatuhnya air di tubuhku
Bagai dibuai jagat raya... hingga menggigil dan kaku
Apakah diluar sana sedingin ini?
Jagat raya tidak sehangat yang aku kira?
Tak ingin juga aku memahaminya... aku hanya menikmati sentuhan tangan jagat raya
yang disampaikan titik air hujan kepada bumi
By: emi
Tuesday, May 19, 2009
Apakah Kau Dengar??
Gemeretak dahan kering di balik lebatnya
pohon bertumbuh
Satu di antara berpuluh yang hidup
hampir mati
Berderak... berderit-derit sebentar lagi patah
Tak ada yang mampu mendengarnya
kecuali pohon itu
kecuali aku!!!
Akulah pohon dimana daun lebat bertumbuh
selalu ada batang kering yang berderak
kemudian mati...
Aku selalu mendengarnya
Mendengar panggilanmu seumpama deritan dahan kering patah
Berderak... terus menerus kembali patah
Dan tak ada yang mendengarnya
apalagi peduli?
Hanya aku...
pohon bertumbuh
Satu di antara berpuluh yang hidup
hampir mati
Berderak... berderit-derit sebentar lagi patah
Tak ada yang mampu mendengarnya
kecuali pohon itu
kecuali aku!!!
Akulah pohon dimana daun lebat bertumbuh
selalu ada batang kering yang berderak
kemudian mati...
Aku selalu mendengarnya
Mendengar panggilanmu seumpama deritan dahan kering patah
Berderak... terus menerus kembali patah
Dan tak ada yang mendengarnya
apalagi peduli?
Hanya aku...
Tuesday, March 10, 2009
Tanya
Sebaris tanya tersisa di hati
hanya sebaris saja...
dari milyaran pertanyaan yang mengambang di bumi
Tapi tak pernah tersampaikan..
Tersimpan rapi.. tak pernah akan muncul
biar tersisa di hati saja..
Tak berharap menjadi nanah... membusuk di dalamnya
Sunday, February 15, 2009
Ilusi
Bertekuk ku peluk kedua kaki
Menggigil menahan dingin
Badai menerpa bumi, badai menggoncang hati
Badai meluluh lantakkan segala pedih peri
Lantas tak membuat segalanya baik seketika
Atas apa yang di bangun perlahan, dengan sedikit kepercayaan
kekosongan itu perlahan terisi benih-benih cinta
Kemudian terhempas begitu saja
Di amuk badai gelombang yang tak tertahankan
atas apa yang di namakan cinta
Hingga tercerai berai segala asa
Mencuat duri tajam mencabik hati yang memang sudah retak
Hati yang perlahan ingin disatukan kembali
Ahhh...
berteriak pun aku yakin tak akan berguna
sampai kerongkongan kehilangan suara pun takkan terselamatkan
Jadi aku hanya terdiam...
menyaksikan sendiri hatiku yang terburai di amuk badai
memang aku selalu kalah.. ataukah mengalah??
Menggigil menahan dingin
Badai menerpa bumi, badai menggoncang hati
Badai meluluh lantakkan segala pedih peri
Lantas tak membuat segalanya baik seketika
Atas apa yang di bangun perlahan, dengan sedikit kepercayaan
kekosongan itu perlahan terisi benih-benih cinta
Kemudian terhempas begitu saja
Di amuk badai gelombang yang tak tertahankan
atas apa yang di namakan cinta
Hingga tercerai berai segala asa
Mencuat duri tajam mencabik hati yang memang sudah retak
Hati yang perlahan ingin disatukan kembali
Ahhh...
berteriak pun aku yakin tak akan berguna
sampai kerongkongan kehilangan suara pun takkan terselamatkan
Jadi aku hanya terdiam...
menyaksikan sendiri hatiku yang terburai di amuk badai
memang aku selalu kalah.. ataukah mengalah??
Monday, January 12, 2009
Sepi
Ku benamkan wajahku dalam kesepian
tak inginku mengangkatnya melihat sinar terang
dalam ketidakberdayaan mengungkungku
Seakan aku tiada berteman
Begitu sunyi di sekelilingku
hingga ke dalam dinding-dinding hati
Aku tahu di sana ada engkau yang selalu menemani
namun saat ini aku benar-benar tiada berdaya...
-----------------------
*aku disini merasa sepi
tak inginku mengangkatnya melihat sinar terang
dalam ketidakberdayaan mengungkungku
Seakan aku tiada berteman
Begitu sunyi di sekelilingku
hingga ke dalam dinding-dinding hati
Aku tahu di sana ada engkau yang selalu menemani
namun saat ini aku benar-benar tiada berdaya...
-----------------------
*aku disini merasa sepi
Monday, December 22, 2008
Suaramu Ada Dimana-mana
Desir angin berhembus
suaramu ada dimana-mana..
Melangkah di antara daun berguguran
sore itu udara mendekapku dalam dingin
Mencoba bersabahat dengan angin
merasakan tiap buaiannya menyapu wajahku
mempermainkan helai rambutku
Kembali angin berdesir
gema suaramu dapat ku dengar dari berbagai penjuru
Terdiam ku menatap daun berguguran
seolah dapat ku lihat jalannya angin
membawa suaramu menyelimutiku dalam hangat
Ku putar pandanganku ke segala penjuru
hanya daun berguguran tertiup angin
Namun suaramu tampak jelas
Kerinduanku padamu begitu dalam
hingga nampak jelas terbawa ke alam nyata..
Desir angin berhembus
suaramu ada di mana-mana..
suaramu ada dimana-mana..
Melangkah di antara daun berguguran
sore itu udara mendekapku dalam dingin
Mencoba bersabahat dengan angin
merasakan tiap buaiannya menyapu wajahku
mempermainkan helai rambutku
Kembali angin berdesir
gema suaramu dapat ku dengar dari berbagai penjuru
Terdiam ku menatap daun berguguran
seolah dapat ku lihat jalannya angin
membawa suaramu menyelimutiku dalam hangat
Ku putar pandanganku ke segala penjuru
hanya daun berguguran tertiup angin
Namun suaramu tampak jelas
Kerinduanku padamu begitu dalam
hingga nampak jelas terbawa ke alam nyata..
Desir angin berhembus
suaramu ada di mana-mana..
Saturday, November 15, 2008
Melukis Masa Lalu di Kanvas Buram
Pada lembar kecoklatan ku goreskan
Sekisah lampau tentang hidup
Bukan hidupku.. tapi hidupmu
Ketika berderet-deret kata meluncur dari bibirmu
Terangkai kalimat tiada batas
Terus saja ku terpekur sambil menatapmu
Terbuai aku dengan semua kata-kata itu
Rangkaian cerita terus menancap pada dinding hatiku
Aku pilihkan yang buram, satu untukmu
Untuk ku meletakkan semua rangkaian cerita masa lalumu
Pada buram hingga hampir tak terlihat
Tak akan pernah ku buang
Biar saja tersimpan rapi di salah satu dinding hatiku
Ku letakkan di dasar yang paling hitam
Pada warna yang paling keruh
Aku rela kau pindahkan semua rasa itu ke dalam kalimatmu
Asal kau tak pernah mengingatnya lagi
Biar aku yang menyimpan... seandainya bisa begitu
Sekisah lampau tentang hidup
Bukan hidupku.. tapi hidupmu
Ketika berderet-deret kata meluncur dari bibirmu
Terangkai kalimat tiada batas
Terus saja ku terpekur sambil menatapmu
Terbuai aku dengan semua kata-kata itu
Rangkaian cerita terus menancap pada dinding hatiku
Aku pilihkan yang buram, satu untukmu
Untuk ku meletakkan semua rangkaian cerita masa lalumu
Pada buram hingga hampir tak terlihat
Tak akan pernah ku buang
Biar saja tersimpan rapi di salah satu dinding hatiku
Ku letakkan di dasar yang paling hitam
Pada warna yang paling keruh
Aku rela kau pindahkan semua rasa itu ke dalam kalimatmu
Asal kau tak pernah mengingatnya lagi
Biar aku yang menyimpan... seandainya bisa begitu
Wednesday, November 05, 2008
Dia yang Ku Kenal
Bagai aku tak pernah mengenalnya
Timur yang nampak tiba-tiba rancu
Terombang-ambing silat lidah
Semuanya nampak buram dan abu-abu
Sekuat aku melangkah
Tak ingin ku menoleh meski
buaian terus membisiki kedua gendang telingaku,
hati dan pikiranku
Angin pun cuma berlalu
tak membisikkan pesan lewat daun gemerisik
tak membawa amanat lewat debu berterbangan
Hanya gemuruh menusuk di rongga dada
Thursday, October 23, 2008
Cakrawala Senja
Termenung sore itu..
Cakrawala semburatkan jingga, biru, putih dan abu-abu
Selasar cahaya menggapai ujung jagat raya
Kokoh seakan menantang dunia
Lamunan datang seiring keindahan yang terekam dalam mata
Membius jiwa, membungkusnya dalam ikatan kedamaian
Membawanya terbang bersama cahaya ke segala penjuru
Mengitari pendar ribuan cahaya nebula
Memeluk kehangatan mentari senja kala
Menyisakan damai menyelusup ke pori hati
Ah... anganku tak inginkan ini berakhir
Hingga malam menyeruak
Lirih suara jangkerik menggantikan kicauan burung
Dan kehangatan mentari berganti hembusan angin dingin
Tak pernah berakhir... dan terus begitu
Hingga waktu berganti.. gelap, terang, menjadi gelap kembali
Ku tetap disini
Tak beranjak meski angin menggerus kulitku
Aku akan terus mengagumimu
Wahai jagat raya...
Segala karut marut yang telah tercipta semakin membuatmu berwarna
Ah.. aku masih disini
Memandangi cakrawala senja
Friday, October 17, 2008
Dan Tak Terlupakan...
Lambat laun sang waktu membawaku melangkah
Berarak awan hitam berganti putih hingga hitam kembali
Susut menyusut air telaga meninggalkan retak
Menggelepar sayap burung... patah... tergeletak di tanah
Langkah kaki ini menyongsong badai
Menerjang.. menyeruak.. hingga ke pori hati
Genggaman lembut masih jelas aku rasakan
Meski samar pun tak nampak.. jelas aku terkuatkan
satu langkah..
dua langkah..
hingga berjuta langkah
pun terus akan melangkah
Mungkin lelah.. nafas yang melekat terus memberiku mimpi
Jauh sudah.. sangat jauh aku melangkah
Genggaman.. senyuman.. sangat lembut
mampu terus membimbingku
Tak nampak meski jutaan cahaya mengelilingiku
dan tak terlupakan...
Monday, October 06, 2008
Love Freak
Terlena hati di buai suka
menjadi ketakutan luar biasa sepanjang perjalanan
Genggamlah tanganku sayang..
jangan biarkanku terbang menjauh darimu
Segala setan memeluk.. membuaiku
Sayang.. aku ingin kau lepaskan belenggu setan
tak cukup kau menggenggam tanganku..
Sepertinya kau harus memelukku erat
Ketakutan itu semakin nyata
tak pelak hatiku bagai tertampar duri
menancap erat berkarat pada sisa-sisa masa lalu
Aku butuh kekuatan… mencabutnya
meletakkan pada hitam kelam agar tak terlihat
Tak semudah angan.. tak secepat cahaya
Namun pasti aku mampu
Saturday, August 30, 2008
Bulan Suci
Tak juga bangkit dari kegelapan
Asyik bermain di dalamnya
Pekat memelukku semakin erat
Pun kalbuku tlah terbuai di antara dekapannya
Bulan yang suci tak lama lagi datang
Dari sini cahayanya tlah nampak
Aku tak ingin melewatkan
Tak ingin dia berlalu tanpa sembah sujudku
Berat langkahku tuk menjauhi hitam
Meski inginku meronta
Aku akan berlari wahai cahaya
Meski pedih peri.. jalan penuh onak duri
Jangan kau lari begitu cepat
Aku ingin memelukmu cahaya suci
dan aku...
Ingin kau peluk aku...
Hangat cahaya bulan suci...
Genggamlah aku erat
-------------------------------
pemimpi kecil menangis.. ditemani pekatnya dunia
Subscribe to:
Posts (Atom)